Thursday, November 8, 2018

Catatan Seorang Idealis Muda : Jadi Centrist, Leftist, atau Kapitalis ?


Kembali lagi bersama dengan saya dengan segala pembahasan yang berasal dari catatan dan perjalanan kehidupan saya sendiri. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang menjadi Kapitalis, Centrist, atau Leftist, dan mana yang lebih benar. Dalam kejadian yang diambil oleh penulis kali ini, saya akan menggunakan pandangan pribadi saya untuk menilai mana yang lebih benar dan juga pandangan dari sekitar saya mengenai hal tersebut. Semoga dengan adanya tulisan pendek ini, dapat menjadi suatu cakrawala pengetahuan yang baru bagi teman-teman berpikir saya semuanya.

Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan yang ada, saya akan menjelaskan terlebih dahulu apa itu Kapitalis, Centrist, ataupun Leftist dari beberapa sumber yang telah dibaca. Pertama-tama, kita mulai dari kapitalis. Kapitalis artinya adalah seseorang yang menganut ideology atau pandangan hidup dalam ranah kapitalisme. Sedangkan, kapitalisme itu sendiri berarti suatu ideology atau pandangan hidup dimana seluruh alat-alat produksi dan modal juga industry dikuasai oleh pihak swasta dengan tujuan meraih keuntungan sebesar-besarnya. Sehingga, Kapitalis adalah seseorang yang menganut paham bahwa seuruh industry, alat produksi, dan modal harus dikuasai oleh pihak swasta demi meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Berlanjut dari kapitalis, kita akan menilik apa itu leftist. Leftist dalam artian sempit adalah setiap orang yang menganut ideology sosialisme ala marx dan segenap sosialisme turunannya beserta jenis-jenis sosialisme lainnya. Namun, dalam artian yang lebih luas, leftist adalah seseorang yang berusaha memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan di bidang ekonomi khususnya. Seorang leftist cenderung berpikiran bercorak sosialisme dan menggaungkan kesetaraan dalam berbagai aspek. Juga, seorang leftist akan berusaha untuk menolak adanya fasisme dan segala bentuk ekonomi kapitalisme. Leftist akan berusaha untuk menggunakan industry dan segala jenis alat produksi demi kepentingan bersama, dan dalam ranah yang sangat ekstrim, dikuasai oleh negara.

Hal terakhir yang kita bahas pengertiannya adalah Centrist. Seorang Centrist dapat diartikan sebagai suatu pihak atau individu yang tidak berpandangan condong ke arah kanan ( Kapitalis) ataupun kiri (Leftist/Sosialis). Seorang centrist seringkali hanya mengambil keuntungan dari kedua pandangan yang ada dan membuang segala keburukannya. Kebanyakan seorang centrist tidak akan terlalu berpihak pada satu pandangan di atas dan dalam praktik yang paling nyata, berlaku moderat kepada sesama. Namun, tidak ada satupun orang di dunia ini yang murni Centrist. Semua orang ataupun kelompok di dunia ini tetap akan sedikit condong kepada Kapitalisme ataupun Sosialisme. Sehingga, muncullah suatu istilah Left-Centrist ataupun Right-Centrist.

Lantas, manakah yang lebih baik tuk dijadikan arah hidup kita? Apakah sebagai leftist, kapitalis, atau Centrist?

Dalam pandangan penulis sendiri, jalan yang paling baik tuk dipilih oleh segenap umat manusia adalah menjadi Left-Centrist. Meskipun dianggap sebagai Centrist yang memiliki jiwa sosialis ataupun kapitalis, seorang left-centrist pastinya lebih mementingkan kesetaraan di dalam bidang ekonomi dan politik. Dalam pandangan penulis, hal ini adalah suatu jalan yang baik. Hal itu dikarenakan, semua orang dalam naluri dasarnya selalu ingin mementingkan diri sendiri, tetapi dalam hal yang lain semua orang juga ingin melihat orang lain bahagia. Sekalipun, dia adalah seorang kapitalis sejati ataupun leftist sejati.

Sebagai bukti nyata, orang terkaya di dunia, Bill Gates, mendirikan sebuah lembaga amal. Uang dan harta yang digelontorkan oleh Bill Gates tentunya tidaklah sedikit. Lewat hal ini juga, Bill Gates telah membantu banyak sekali orang, khususnya di dataran Afrika. Banyak anak-anak yang bisa sembuh dari penyakit mereka dan merasakan apa itu hidup yang sebenarnya lewat yayasan amal Bill Gates ini. Yayasan yang bernama “Bill and Melinda Gates Foundation” ini telah membantu banyak anak-anak di dunia untuk bisa bersekolah dan mendapatkan perawatan kesehatan. Yayasan ini juga didukung oleh konglomerat luar biasa yaitu Warren Buffet. Hal ini membuktikan kalau Bill Gates merupakan seseorang yang menginginkan egalitarianism di dalam hal ini. Tetapi, jika kita melihat lagi ke hal lain, Bill Gates adalah seorang kapitalis yang luar biasa.

Hal-hal tersebut sangat membuktikan kalau Bill Gates yang merupakan seorang kapitalis tetap memiliki kekuatan sosialis dalam dirinya. Oleh sebab itu, Bill Gates dapatlah kita golongkan pada orang Right-Centrist. Dan hal tersebut juga membuktikan kalau menjadi centrist adalah yang terbaik.

Lantas, adakah beberapa orang yang memiliki pandangan atau ideology yang cenderung Left-Centrist yang dapat dijadikan sebagai bukti? Tentu saja ada. Jawabannya yang paling mudah adalah Bapa Proklamator Indonesia, Soekarno. Beliau adalah seorang leftist yang juga memiliki kemampuan layaknya seorang kapitalis dengan membawa negara ini kepada kebangkitan dari Inflasi gila-gilaan 650%. Meskipun banyak orang yang menganggap Soekarno hidup di masa yang buruk, dia bisa dibilang sebagai salah satu presiden terkuat Indonesia. Ia adalah seorang Left-Centrist yang luar biasa membuat kesetaraan sosial di Indonesia lewat gerakan Nasakomnya tanpa menghilangkan adanya kapitalisme, sehingga terjadi keseimbangan yang baik di dalam keadaan sosial masyarakat. Banyak pembangunan yang dalam perspektif berbeda dapat menurunkan angka pengangguran, tetapi dalam hal lain menambah banyaknya beban keuangan negara saat itu.

Dengan kedua bukti di atas, maka penulis pun meyakini kalau menjadi seorang Left-Centrist adalah hal yang terbaik bagi kebanyakan orang. Dikarenakan dengan berkurangnya kesenjangan sosial tetapi diikuti dengan keuntungan-keuntungan dari sector swasta, kesejahteraan akan dapat dicapai dengan baik lewat bantuan campur tangan negara yang sewajarnya.

Lalu, apakah menurut pandangan sekitar penulis akan hal ini?

Pandangan sekitar penulis yang didominasi oleh muslim moderat, menganjurkan untuk menjadi Centrist. Sehingga, benarlah kalau menjadi Centrist adalah yang terbaik. Namun, centrist yang mereka maksud bisa saja adalah seorang Right-Centrist ataupun sama seperti penulis yaitu Left-Centrist.

Lantas, jika centrist adalah yang terbaik menurut penulis ataupun sekitar penulis, bagaimana dengan Leftist dan Kapitalis?

Leftist dalam ranah yang ekstrim lebih baik tidak usah hidup di dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Hal tersebut hanya akan menjadi sebuah parasite dalam tubuh Bangsa Indonesia sendiri. Seperti peristiwa G30S/PKI yang disebabkan oleh golongan leftist ekstrem yang membuat bangsa ini harus kehilangan 7 Perwira terbaiknya.

Sehingga, penulis menyarankan untuk tidaklah sekali-kali menjadi seorang leftist ekstrim. Lebih baik seribu kali hidup tanpa pandangan hidup daripada menjadi seorang leftist ekstrim. Leftist ekstrim sama saja dengan mendukung adanya pemaksaan akan kehendak orang lain yang bukannya menyejahterakan, malah menghancurkan sesuatu yang baik.

Lalu, untuk kapitalis, lebih baik seribu kali jangan pernah menyentuh hal tersebut jikalau telah mencapai titik Kapitalisme ekstrim. Seorang kapitalis yang murni kapitalis akan menghalalkan segala cara untuk menggapai keuntungan. Termasuk di dalamnya adalah korupsi dan merugikan teman-teman ataupun rekan kerjanya sendiri. Menjadi seorang kapitalis murni tidaklah butuh kekayaan yang banyak, cukup otak licik dan haus akan uang saja sudah cukup. Sesungguhnya, seorang kapitalis adalah orang yang paling miskin di dunia ini. Sungguh kapitalisme adalah jalan paling licik dan kotor dalam bidang ekonomi maupun politik.

Alangkah baiknya seorang kapitalis tidak beragama. Karena, jikalau mereka beragama, saya rasa Tuhan akan malu melihat umatnya seperti itu. Memeras orang lain dan juga menghalalkan segala cara hanya demi uang yang sungguh tidak dapat dibawa mati. Bukan hanya dengan cara lama seperti korupsi, namun juga dengan memengaruhi orang lain supaya menjadi sama sepertinya. Keegoisan seorang kapitalis, saya rasa itu adalah hal yang paling beracun di dunia.

Sekian tulisan saya dan pandangan saya mengenai Kapitalis, Centrist, dan Leftist, juga dimanakah yang paling baik menurut saya dan sekitar saya. Semoga tulisan ini bisa memberkati dan membuat semua yang membacanya terbuka wawasannya.

Thursday, October 11, 2018

Apakah Religiusitas Diperlukan Dalam Kehidupan Bermasyarakat ?


“Agama adalah candu masyarakat” adalah sebuah kalimat yang sangat terkenal di dalam masyarakat Indonesia ataupun dunia ketika membicarakan ideologi besutan filsuf kenamaan bernama Karl Marx. Marx menyatakan hal yang demikian karena adanya kesalahan dalam kehidupan religious masyarakat di zamannya. Agama dijadikan pelarian orang-orang gagal dan orang-orang lemah yang tertindas oleh zaman dan oleh kapitalisme pada zaman itu. Lantas, apakah menjadi religious itu perlu? Apakah religiusitas seseorang akan menentukan baik tidaknya masyarakat tersebut? Catatan sang Idealis Muda kali ini akan membahas tentang hal tersebut dari lingkup kehidupan di sekitarnya dan dari kasus yang ada pada negara-negara lain.
Religiusitas menurut KBBI mengacu pada kesalehan seseorang. Namun, menurut pandangan pribadi saya, Religiusitas adalah sesuatu kadar seseorang dalam mengamalkan nilai-nilai keagamaan yang ia anut dalam kehidupannya. Dimana hal ini tidaklah bertentangan dengan maksud asli yang telah dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Lantas, apa hubungannya antara religiusitas dengan kehidupan berbangsa ?

Hubungan antara religiusitas dengan aspek kebangsaan yang paling jelas adalah pengaturan norma-norma dan hukum yang berlaku dalam kehidupan kebangsaan itu nantinya. Sebagai contoh, negara-negara di Jazirah Arab seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Yaman, Qatar dan sebagainya, memiliki nilai-nilai religi islami yang begitu kental. Hal ini pada nantinya membawa negara-negara di kawasan Jazirah Arab tersebut mengadopsi hukum-hukum yang terdapat dalam agama Islam dan juga dalam kitab suci Al-Quran ke dalam hukum bernegara mereka. Dari hukum yang mereka anut, nantinya hal ini akan semakin meresap dalam norma-norma yang ada dan juga meresap dalam tradisi masyarakat. Sehingga, nantinya pola pikir dan pola kehidupan masyarakat yang terbentuk akan berdasarkan kepada nilai-nilai religius agama tersebut, yang dalam hal ini adalah agama Islam.

Kejadian ini bukan hanya terjadi di Jazirah Arab saja, melainkan hampir di seluruh dunia. Dimana nilai-nilai religiusitas dari suatu agama akan meresap ke dalam kehidupan masyarakat karena negara tersebut mengadopsinya ke dalam “kultur” (baca: hukum) bangsa tersebut. Dan pada nantinya, negara tersebut akan terikat secara penuh ke dalam suatu ajaran religi suatu agama sehingga membentuk masyarakat yang cenderung homogen. Dan hal ini adalah suatu fenomena yang menurut saya cukup berbahaya karena akan memicu pengkotak-kotakan masyarakat di dunia dan memicu terjadinya konflik yang kemungkinan besarnya akan berjalan secara massif.
Sekiranya, itulah gambaran kecil tentang relasi antara religiusitas dengan kehidupan berbangsa. Sebenarnya masih lebih banyak lagi yang bisa dikupas dari relasi ini, tetapi saya akan mengarahkan pembicaraan dan topic dalam tulisan kali ini ke dalam aspek yang telah saya tuliskan di atas.

Lalu, apakah hal ini berarti menjadi religius dalam aspek kebangsaan itu salah?

Jawaban yang sesungguhnya adalah TIDAK! Hal ini didasarkan pada fakta bahwa tidak ada agama yang benar-benar terlepas dari hukum atau tradisi agama tertentu dalam aspek kebangsaan yang mereka anut. Sekalipun, negara itu adalah negara yang kebanyakan di antara penduduknya adalah atheis atau agnostic seperti negara-negara Eropa ataupun negara-negara komunis.
Hal ini dapat dibuktikan oleh negara Cina atau Tiongkok dan juga Rusia.

Saya akan membahas tentang negara Tiongkok atau CIna lebih dahulu. Negara Cina atau dalam nama resminya adalah Republik Rakyat Cina adalah sebuah negara komunis yang masih bertahan hingga sekarang dan memiliki penduduk yang kebanyakan atheis, agnostic, ataupun menganut agama tertentu namun tidak menjalankan praktik keagamaannya. Namun, Cina adalah salah satu negara yang dikenal memiliki moral yang baik dan mendasarkan praktik kenegaraannya pada ajaran Konfusianisme atau yang lebih dikenal dengan Kong Hu Cu. Hal ini pun menjadi dasar argumentasi saya untuk mengatakan bahwa semua negara pasti menganut sedikit dari dasar-dasar atau nilai keagamaan agama tertentu sekalipun mayoritas masyarakatnya adalah atheis.

Setelah kita melihat secara singkat apa yang terjadi di Cina, kita naik sedikit ke negara yang disebut “Negara Beruang Merah” di masa perang dingin, Rusia atau yang dulu dikenal sebagai Uni Soviet. Negara ini dulunya merupakan sebuah kerajaan yang memanjang dari Eropa Timur hingga ke dekat perairan Jepang di Asia Timur. Pada masa kerajaan Rusia masih berkuasa, rakyat di Rusia dikuasai oleh sistem yang didasarkan pada ajaran Kristen Orthodox. Meskipun pada awalnya pengajaran Kristen Orthodox ini dilatarbelakangi oleh motif politis, namun lama kelamaan semakin meresap dalam kehidupan masyarakat di Rusia dan menjadi suatu kultur yang mengakar kuat. Namun, pada tahun 1917-an terjadi revolusi Oktober atau yang dikenal dengan Revolusi Bolshevik yang membuat tahta kerajaan Rusia berakhir. Sistem komunisme yang sarat dengan atheism pun digalakkan di seluruh negeri setelah kejadian tersebut. Namun, rakyat dan pemerintah Soviet tidaklah bisa sepenuhnya terlepas dari kultur Kristen Orthodox yang sudah mengakar kuat di dalam kehidupan mereka. Terbukti setelah pemerintahan Komunis Rusia jatuh, 90% rakyat Rusia kembali ke agamanya masing-masing dan yang paling besar adalah penganut Kristen Orthodox yang mencakup hampir 87% dari keseluruhan persentase.
Dari dua kasus tersebut, dapat kita simpulkan bahwa nilai-nilai keagamaan atau religiusitas tidak pernah bisa terlepas dari kebudayaan, kondisi, pola pikir, dan juga hukum suatu negara. Sehingga, menjadi hal yang wajar untuk menjadi religius dalam sudut pandang berkebangsaan apalagi jikalau dilakukan oleh negara yang memang terkenal kental nilai religiusnya seperti negara-negara di Asia Tenggara, dataran Anak Benua India, dan Jazirah Arab. Bahkan, sangatlah dianjurkan untuk menjadi religius tetapi tidak fanatic terhadap suatu golongan di dalam ranah dan aspek berkebangsaan yang benar.

Lalu, apakah menjadi religius itu perlu ?

Jawabannya adalah PERLU! Dikarenakan dengan menjadi religius tetapi bukanlah menjadi seorang yang fanatik (ini harus diperhatikan) akan mempermudah kita menuju kepada toleransi bermasyarakat. Religiusitas yang benar akan mengarahkan kita kepada toleransi yang sejati terutama dalam masyarakat yang majemuk. Juga, religiusitas yang benar justru akan meredam konflik yang ada di dalam masyarakat. Dikarenakan pada dasarnya semua agama di dunia ini mengajarkan satu moral yang sama yaitu kedamaian yang abadi. Sehingga, untuk mencapai suatu masyarakat yang toleran dibutuhkan lebih dulu masyarakat yang religius.
Toleransi yang dimiliki dari masyarakat yang majemuk akan membawa suatu bangsa untuk menjadi bangsa yang Superpower di dunia. Karena, bangsa yang akan menjadi suatu bangsa adidaya tidaklah pernah melakukan Cultural suicide yang dapat memicu konflik dalam kehidupan bermasyarakatnya. Dan atas hal ini juga saya pada kali ini mengangkat topic ini sebagai bahan bacaan yang mudah tuk dicerna oleh masyarakat luas yang minimal mengerti tentang kondisi sekitar rumahnya.

Contoh dari bangsa yang religius tetapi maju dan menjadi superpower adalah bangsa Arab di jaman keemasan Islam yang terjadi dari awal kemunculan Islam hingga perang salib berakhir. Bangsa Arab adalah bangsa yang sangat religius dan juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai islami dalam kehidupannya. Tetapi, pada masa keemasan Islam, bangsa Arab memiliki toleransi yang begitu besar kepada bangsa-bangsa lain. Sehingga, ilmu pengetahuan di bidang ekonomi, sains, dan juga filsafat berkembang pesat dan mengalahkan bangsa-bangsa barat yang saat itu sedang terpuruk karena adanya sistem “Papal State” yang mengungkung pemikiran rakyat di daerah Eropa. Toleransi yang mereka miliki saat itu membuat mereka bisa berdagang dengan bangsa-bangsa di daerah Timur Jauh seperti Cina, India, Rusia, dan juga Indonesia. Hal ini berhasil memicu perkembangan dari ekonomi bangsa Arab saat itu yang membuatnya juga berhasil sangat maju dalam bidang ilmu pengetahuan.

Sehingga, dari kasus bangsa Arab dalam era keemasan Islam ini kita bisa membantah pernyataan yang berkata “Agama adalah candu masyarakat” seperti yang dikatakan oleh Karl Marx.

Penghancuran pernyataan Karl Marx ini sekali lagi membuktikan bahwa Religiusitas dalam masyarakat sangatlah diperlukan dalam membangun suatu negara yang lebih kuat dan lebih toleran lagi. Lagipula, ketika agama mulai ditinggalkan dan terjadi dekadensi moral dalam masyarakat, disitulah kehancuran dan kemunduran bangsa-bangsa mulai terlihat. Contoh kecil bagi kasus adanya penurunan moral karena mulai ditinggalkannya agama adalah bangsa-bangsa Eropa pada saat ini.

Dari uraian di atas, kita dapat masuk ke pertanyaan yang telah saya ajukan sebelumnya, yaitu “ Apakah religiusitas menentukan baik buruknya suatu masyarakat?”

Jawaban yang paling tepat adalah BELUM TENTU. Mengapa bisa dikatakan belum tentu ? Karena dalam menilai baik buruknya suatu masyarakat, kita harus menimbang-nimbang dari berbagai aspek kehidupan. Norma, tradisi masyarakat, pola pikir masyarakat, tingkat pendidikan masyarakat tersebut dan sebagainya. Bahkan, di India yang terkenal sangat religius pun masyarakatnya cenderung terlihat lebih “buruk” dengan kasus-kasus pemerkosaan yang ada di tengah-tengah mereka jika dibandingkan dengan negara-negara secular di Eropa sana. Namun satu hal yang pasti, adanya agama dan masyarakat yang religius biasanya akan membawa masyarakat lebih patuh terhadap hukum agama yang berlaku. Sehingga secara garis besar, masyarakat yang tercipta di dalamnya akan lebih teratur dan tertata. Contoh yang bisa kita lihat, ada dalam masyarakat yang negaranya menganut “Papal State” pada zaman pertengahan seperti Kekaisaran Romawi Suci.

Sehingga, dari segenap uraian dan
akan membawa permasalahan ini ke dalam Aspek bangsa Indonesia agar bangsa ini bisa semakin maju lagi di masa yang akan datang.

Jika kita melihat kembali ke atas, saya sudah menyinggung sedikit tentang toleransi dan negara adidaya. Hal ini memiliki hubungan yang sangat dan amat erat dengan bangsa kita, Indonesia. Bangsa ini adalah bangsa yang majemuk dan terdiri dari ratusan bahkan ribuan golongan yang berbeda-beda. Sehingga, hal ini adalah suatu potensi yang luar biasa yang bisa kita jadikan alat untuk membuat bangsa ini menjadi bangsa Adidaya di dunia.

Jika saya boleh merangkum dari beberapa artikel yang saya baca, ada 3 syarat sebuah negara bisa menjadi negara adidaya, yaitu :
1. Negara harus memiliki militer yang kuat
2. Negara harus memiliki toleransi yang besar dan tidak melakukan cultural suicide
3. Negara harus memiliki sistem ekonomi yang kuat dan IPC yang tinggi
Bangsa ini telah memenuhi 1 dari 3 syarat tersebut dan syarat yang paling mudah tuk diwujudkan adalah syarat yang ke-3 yaitu membangun ekonomi yang kuat. Tetapi, hal yang bisa mewujudkan syarat ke-3 adalah syarat yang ke-2 yang menjadi syarat paling sulit tuk dilakukan karena harus mempersatukan segala golongan dan membangun suatu toleransi dalam bermasyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, saya pun memiliki beberapa pandangan untuk membangun toleransi yang kuat berdasarkan pengalaman yang terjadi di sekitaran lingkungan rumah penulis. Sekiranya ini akan membangun konsep dan juga sedikit trik untuk membangun kehidupan yang dipenuhi toleransi dalam segala hal.
1. Untuk memulai Toleransi, hiduplah dalam sebuah kehidupan yang nge’guyub’
Bukan berarti kita harus membuat suatu paguyuban untuk hidup, tetapi hiduplah dalam suatu masyarakat yang memandang anda sebagai suatu saudara. Jikalau lingkungan sekitar anda tidak seperti ini, mulailah sebagai agen perubahan dengan menjadi pelopor adanya hidup yang ngeguyub. Cara memulai yang paling gampang adalah bersilaturahmi. Jangan pandang apa agamanya, rasnya, sukunya, golongannya, warna kulit ataupun bahasanya, dan perawakannya. Mulailah bersilaturahmi. Toleransi dapat muncul dari perkenalan yang baik.

2. Untuk memperbesar adanya toleransi, mulailah hidup dalam kolektivisme
Bukan berarti kita harus menjadi miskin semuanya atau membentuk suatu masyarakat yang komunis dan utopis, tetapi mulailah hidup saling melengkapi dan saling memberi. Jangan pandang apa agama, suku, ras, dan golongannya. Berilah yang terbaik yang kamu miliki. Dalam masyarakat sekitar rumah penulis, ini sudah terjadi dengan begitu massif dan telah berjalan semenjak penulis pindah ke daerah lingkungan rumah ini. Dan toleransi dalam masyarakat sekitar lingkungan rumah begitu terasa sampai sekarang.

3. Setelah dimulai dari lingkungan sekitar, mulailah lakukan ini di setiap tempat anda berada
Jadilah agen perubahan dimanapun anda berada dan dimanapun anda berada. Janganlah takut untuk menyebarkan kebaikan tersebut.

4. Yang terpenting dari segalanya, jangan membuat kelompok baru yang memicu pengkotak-kotakan dengan kehidupan ngeguyub anda
Sekiranya itulah sedikit tips dan juga beberapa uraian yang sekiranya bisa membuka cakrawala pemikiran anda menjadi lebih luas daripada sebelumnya. Dalam tulisan ini saya yakin jikalau masih banyak kekurangan sehingga saya pun memohon maaf dalam penulisan saya kali ini.
Semoga apa yang saya tuliskan ini dapat bermanfaat. Selamat Bertoleransi. Salam Perubahan.

Friday, September 28, 2018

Catatan seorang idealis muda : Bangsa yang kekurangan orang-orang berjiwa Garuda

 
Idealis adalah seorang yang mengandalkan pemahaman pada visi yang jelas menurut sebagian orang , tetapi bukanlah itu pengertiannya menurut saya pribadi. Idealis adalah seseorang yang mau untuk mempertahankan pendapatnya, pemikirannya, resolusinya, dan juga sifatnya sendiri dalam segala hal karena ia yakin itulah jalan yang benar untuknya. Akan tetapi, Idealis yang sejati harusnya juga mengetahui realita di sekitarnya dan menilai hal tersebut sebagai hal yang wajar dan semakin melengkapi pemahamannya. Hal inilah yang selalu saya alami dari hari ke hari. Saya berubah dan terus berubah menjadi seorang idealis muda dengan seribu pemikiran untuk membangun Bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Perilaku ini dan juga sifat ini, saya dasari kepada rasa cinta yang mendalam terhadap Bangsa ini.

Bangsa ini tidak pernah kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang jujur. Itulah yang orang-orang selalu katakan dari hari ke hari. Akan tetapi, kenyataannya Bangsa kita memang masih kekurangan orang pintar untuk cukup maju. Bangsa ini masih kekurangan orang-orang pintar yang cinta, sayang, dan memiliki resolusi yang jelas untuk Bangsa ini. Kita kekurangan orang-orang pintar karena kita sendiri yang membentuk hal tersebut. Kita terjebak dalam suatu kondisi yang terus memutar dan berputar di tempat yang sama. Bangsa ini kekurangan orang pintar yang cinta terhadap negaranya karena pada dasarnya kita sendiri tidak mendukung mereka. Sebagai contoh, banyak sekali orang-orang pintar yang tidak didukung di dalam negeri. Lalu, mereka pun merantau ke negeri orang dan mengalami kesuksesan di sana. Mereka mendapatkan dukungan yang luar biasa dari rakyat dan penduduk di negeri itu, bahkan mereka didukung oleh pemerintah di sana.

Apakah anda sudah sedikit mengerti apa maksud saya sampai saat ini?
Bangsa ini tidak pernah kekurangan orang-orang pintar secara intelektual, ya itu benar! Bangsa ini tidak kekurangan orang-orang ramah, ya itu benar! Tetapi, Bangsa ini kekurangan orang-orang berjiwa Garuda. Kebanyakan dari mereka berjiwa Bangsa lain. Akan tetapi, ini bukanlah kesalahan mereka pribadi. Karena, mereka sendiri seperti yang telah saya katakan tidaklah didukung oleh Bangsa mereka sendiri, oleh lingkungan mereka sendiri, oleh keluarga sendiri, bahkan oleh diri mereka sendiri. Oleh sebab itu, hal pertama yang harus kita lakukan di dalam membangun Bangsa ini adalah mengedukasi anak-anak kita, orang-orang muda kita, para pekerja kita, seluruh pendidik kita, bahkan para kepala keluarga kita dengan baik. Edukasi tidak semata-mata hanya pelajaran yang diberikan di bangku sekolah, universitas, ataupun tempat training semata. Tetapi, edukasi harus dapat diberikan di dalam kehidupan kita dalam bentuk yang bermacam-macam. Didiklah mereka dengan didikan yang bertumpu pada aspek intelektualitas (kepintaran) dan juga penanaman jiwa Garuda (mental). Sehingga, generasi yang akan kita hasilkan adalah generasi yang memiliki kecintaan dan juga jiwa Garuda itu sendiri.

Lalu apa itu jiwa Garuda? Apakah hanya sebuah nasionalisme semata? Ataukah menjurus pada suatu ideologi tertentu? Tentunya itu semua salah. Jiwa Garuda yang sebenarnya adalah rasa sayang dan juga cinta secara mendalam kepada tanah air kita, Indonesia, didukung dengan keinginan untuk membangun Bangsa ini secara penuh. Karena, saat ini banyak orang yang hanya merasa bangga, cinta, sayang, hormat, dan segan kepada Bangsa dan Tanah Air tercinta, Indonesia, tanpa sedikitpun rasa ingin membangun Indonesia secara utuh. Kebanyakan dari mereka hanya merasakan rasa cinta dan sayang semata, tetapi merasa ogah ketika mereka ditawari untuk membangun Bangsa ini ataupun membela Bangsa ini. Contoh paling nyata dapat kita lihat dalam kehidupan anak sekolah. Kebanyakan anak sekolah sangat membenci pelajaran PPKN ataupun mengikuti kegiatan Pramuka. Padahal ketika mereka ditanya oleh orang lain, apakah mereka cinta terhadap Bangsa ini? Mereka mengatakan kalau mereka cinta.

Hal inilah yang harus selalu dipangkas dalam kehidupan kita dalam berBangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Karena, hal ini lama kelamaan akan menjadi parasit dalam kehidupan berBangsa, bernegara, dan bermasyarakat kita. Mungkin dari dulu memang sudah terasa dampaknya, tetapi bayangkan ketika ini semakin mengakar dan akhirnya ini tidak bisa lagi diberangus seperti perilaku koruptif pejabat negara kita? Betapa mengerikannya hal ini di masa depan. Negara kita akan menjadi suatu sasaran empuk bagi negara-negara rakus lainnya. Tidak ada kata mungkin untuk negara kita bisa maju ketika hal ini sudah mengakar kuat di dalam diri kita masing-masing.

Oleh sebab itu, saya pun seorang idealis muda akan memberikan sedikit dari pemikiran saya untuk mengikis sedikit demi sedikit perilaku ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin pemikiran saya ini terlalu sempit ataupun skeptis, dan juga pemikiran saya ini mungkin terlalu naif, tetapi menurut saya ini sangat memungkinkan untuk dilakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Berikut adalah sedikit dari pemikiran saya yang amat sangat sempit dan kecil untuk mengikis dan memberantas perilaku tersebut dan juga memunculkan Jiwa Garuda.

1. Lakukan edukasi kepada kalangan muda terutama kalangan remaja lewat pendidikan
Merubah manusia lewat pendidikan merupakan hal yang selalu digaungkan sejak dulu. Bahkan, Jiwa Garuda selalu digaungkan hampir di setiap pelajaran PPKN dengan kata “Patriot”. Tetapi, ketika kita hendak melakukan hal ini, selalu saja ada halangannya. Oleh sebab itu, dalam menjalankan pemikiran pertama saya ini, lakukanlah reformasi di dalam kubu gurunya terlebih dahulu. Hilangkan perilaku koruptif, malas, dan juga membangkang dalam jiwa guru-guru. Jikalau ada guru yang sudah lama melakukan hal seperti itu, didik mereka kembali dalam training-training yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Jikalau masih belum dapat berubah, doktrinlah mereka dengan cara yang lebih kerasa daripada sebelumnya. Hampir semua revolusi besar di dunia yang melibatkan ideologi  tertentu melakukan hal ini dalam langkah lanjutan untuk melakukan perubahan ke semua lini. Oleh sebab itu, pendidikan adalah kuncinya.

2. Gerakan kaum mayoritas di dalam negara tersebut
Jikalau negara kita mayoritas terdiri dari golongan pekerja kasar dan juga buruh, maka jalan yang paling baik adalah melakukan training kepada mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Lakukanlah pendekatan secara tidak langsung agar mereka memiliki Jiwa Garuda. Tidak semua buruh itu adalah golongan orang-orang kurang terpelajar. Banyak juga dari mereka yang sebenarnya memiliki pemikiran cemerlang. Begitupun dengan para petani dan pekerja kasar lainnya. Hanya saja, pemikiran mereka terbatas pada bidang yang mereka dalami atau kerjakan. Sehingga, buatlah suatu batasan dalam diri mereka untuk memiliki Jiwa Garuda di dalam bidang yang mereka tekuni dengan bekerja sepenuh hati. Masalahnya sekarang ini, kapitalisme telah memaksa kaum kelas bawah untuk bekerja keras tanpa upah yang sepatutnya. Oleh sebab itu, sebaiknya negara mulai melakukan sedikit nasionalisasi alat produksi. Karena, jikalau alat produksi telah dikuasai, kapitalisme mungkin tetap ada, tetapi setidaknya negara bisa mengendalikannya sedikit. Kapitalisme ini berkembang dikarenakan oleh kurang kuatnya regulasi negara kita dalam melindungi warga negaranya. Uang berbicara dalam hukum negara kita. Dalam hal ini, kekuatan rakyat atau demokrasi adalah alat yang paling ampuh untuk mewujudkannya.

3. Ciptakan suatu hukum yang kuat dan juga memaksa didukung oleh kekuatan aparat
Seribu kalipun kita melakukan reformasi hukum, ketika aparatnya kurang kuat dan pemimpinnya kurang bersifat tegas, tidak akan ada yang namanya supremasi hukum yang sempurna. Hukum yang saat ini ada masih terlalu lembek untuk menekan dan juga mengubah Bangsa ini dari kebiasaan lamanya. Hukum yang dibuat haruslah kuat dan juga memaksa. Karena, masyarakat akan merasa segan dan takut untuk melanggar hukum yang ada. Dengan adanya hukum yang kuat, memunculkan Jiwa Garuda akan menjadi hal yang mudah karena ada keteraturan dalam masyarakat. Tetapi, hal ini juga harus didukung oleh aparat negara yang juga tegas. Tegas dalam hal ini bukanlah otoriter atau mengekang kebebasan rakyatnya. Setiap orang berhak atas kebebasannya. Tetapi, tegas dalam hal ini adalah ikut berkomitmen menaati hukum, memegang erat hukum, dan juga melaksanakan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Juga, tegas disini berarti berani berkata tidak ketika ada ajakan untuk melawan komitmen yang telah dibuat. Oleh sebab itu, pemimpin yang ada pun harus bertangan besi kepada bawahannya dan lembut seperti seorang ibu kepada rakyatnya. Dengan adanya hal ini, aparat akan tertata dalam keteraturan dan rakyat akan memandang pemimpinnya sebagai suatu panutan. Sehingga, rakyat akan berusaha untuk mencontoh pemimpinnya tersebut dan Jiwa Garuda dapat ditanamkan sedikit demi sedikit. Inti dari poin ini adalah kekuatan dan ketegasan hukum yang didukung dengan ketegasan kepemimpinan.

Sehingga, inti dari semua wacana di atas adalah, Indonesia masih kekurangan orang-orang pintar yang berjiwa Garuda. Kita memang benar tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang jujur. Tetapi, hal tersebut juga tidak sepenuhnya benar. Jikalau nantinya Indonesia dipenuhi orang jujur dan pintar tetapi tidak memiliki keinginan membangun Bangsa ini karena tidak punya Jiwa Garuda, apakah yang akan terjadi? Negara ini akan tetap stagnan pada akhirnya. Negara ini pada akhirnya tidak akan berjalan dengan semestinya, bahkan bisa lebih parah lagi. Nantinya, akan tercipta orang-orang pintar serakah yang mulai memonopoli aspek-aspek kehidupan dengan kepintarannya dan mulai mempengaruhi rakyat juga masyarakat dengan “kejujurannya”. Atau yang paling bahaya, Bangsa ini akan mulai dipimpin oleh orang-orang malas dan tidak memiliki tujuan karena mereka jujur dan pandai tetapi tidak pernah bekerja dan tidak memiliki hasrat untuk bekerja. Sehingga, akhir kata, milikilah Jiwa Garuda dalam dirimu dan kau akan dapat melihat Bangsa Indonesia yang lebih baik ke depannya.

Semoga bermanfaat dan dapat memotivasi juga menginspirasi anda semua.