Friday, September 28, 2018

Catatan seorang idealis muda : Bangsa yang kekurangan orang-orang berjiwa Garuda

 
Idealis adalah seorang yang mengandalkan pemahaman pada visi yang jelas menurut sebagian orang , tetapi bukanlah itu pengertiannya menurut saya pribadi. Idealis adalah seseorang yang mau untuk mempertahankan pendapatnya, pemikirannya, resolusinya, dan juga sifatnya sendiri dalam segala hal karena ia yakin itulah jalan yang benar untuknya. Akan tetapi, Idealis yang sejati harusnya juga mengetahui realita di sekitarnya dan menilai hal tersebut sebagai hal yang wajar dan semakin melengkapi pemahamannya. Hal inilah yang selalu saya alami dari hari ke hari. Saya berubah dan terus berubah menjadi seorang idealis muda dengan seribu pemikiran untuk membangun Bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Perilaku ini dan juga sifat ini, saya dasari kepada rasa cinta yang mendalam terhadap Bangsa ini.

Bangsa ini tidak pernah kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang jujur. Itulah yang orang-orang selalu katakan dari hari ke hari. Akan tetapi, kenyataannya Bangsa kita memang masih kekurangan orang pintar untuk cukup maju. Bangsa ini masih kekurangan orang-orang pintar yang cinta, sayang, dan memiliki resolusi yang jelas untuk Bangsa ini. Kita kekurangan orang-orang pintar karena kita sendiri yang membentuk hal tersebut. Kita terjebak dalam suatu kondisi yang terus memutar dan berputar di tempat yang sama. Bangsa ini kekurangan orang pintar yang cinta terhadap negaranya karena pada dasarnya kita sendiri tidak mendukung mereka. Sebagai contoh, banyak sekali orang-orang pintar yang tidak didukung di dalam negeri. Lalu, mereka pun merantau ke negeri orang dan mengalami kesuksesan di sana. Mereka mendapatkan dukungan yang luar biasa dari rakyat dan penduduk di negeri itu, bahkan mereka didukung oleh pemerintah di sana.

Apakah anda sudah sedikit mengerti apa maksud saya sampai saat ini?
Bangsa ini tidak pernah kekurangan orang-orang pintar secara intelektual, ya itu benar! Bangsa ini tidak kekurangan orang-orang ramah, ya itu benar! Tetapi, Bangsa ini kekurangan orang-orang berjiwa Garuda. Kebanyakan dari mereka berjiwa Bangsa lain. Akan tetapi, ini bukanlah kesalahan mereka pribadi. Karena, mereka sendiri seperti yang telah saya katakan tidaklah didukung oleh Bangsa mereka sendiri, oleh lingkungan mereka sendiri, oleh keluarga sendiri, bahkan oleh diri mereka sendiri. Oleh sebab itu, hal pertama yang harus kita lakukan di dalam membangun Bangsa ini adalah mengedukasi anak-anak kita, orang-orang muda kita, para pekerja kita, seluruh pendidik kita, bahkan para kepala keluarga kita dengan baik. Edukasi tidak semata-mata hanya pelajaran yang diberikan di bangku sekolah, universitas, ataupun tempat training semata. Tetapi, edukasi harus dapat diberikan di dalam kehidupan kita dalam bentuk yang bermacam-macam. Didiklah mereka dengan didikan yang bertumpu pada aspek intelektualitas (kepintaran) dan juga penanaman jiwa Garuda (mental). Sehingga, generasi yang akan kita hasilkan adalah generasi yang memiliki kecintaan dan juga jiwa Garuda itu sendiri.

Lalu apa itu jiwa Garuda? Apakah hanya sebuah nasionalisme semata? Ataukah menjurus pada suatu ideologi tertentu? Tentunya itu semua salah. Jiwa Garuda yang sebenarnya adalah rasa sayang dan juga cinta secara mendalam kepada tanah air kita, Indonesia, didukung dengan keinginan untuk membangun Bangsa ini secara penuh. Karena, saat ini banyak orang yang hanya merasa bangga, cinta, sayang, hormat, dan segan kepada Bangsa dan Tanah Air tercinta, Indonesia, tanpa sedikitpun rasa ingin membangun Indonesia secara utuh. Kebanyakan dari mereka hanya merasakan rasa cinta dan sayang semata, tetapi merasa ogah ketika mereka ditawari untuk membangun Bangsa ini ataupun membela Bangsa ini. Contoh paling nyata dapat kita lihat dalam kehidupan anak sekolah. Kebanyakan anak sekolah sangat membenci pelajaran PPKN ataupun mengikuti kegiatan Pramuka. Padahal ketika mereka ditanya oleh orang lain, apakah mereka cinta terhadap Bangsa ini? Mereka mengatakan kalau mereka cinta.

Hal inilah yang harus selalu dipangkas dalam kehidupan kita dalam berBangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Karena, hal ini lama kelamaan akan menjadi parasit dalam kehidupan berBangsa, bernegara, dan bermasyarakat kita. Mungkin dari dulu memang sudah terasa dampaknya, tetapi bayangkan ketika ini semakin mengakar dan akhirnya ini tidak bisa lagi diberangus seperti perilaku koruptif pejabat negara kita? Betapa mengerikannya hal ini di masa depan. Negara kita akan menjadi suatu sasaran empuk bagi negara-negara rakus lainnya. Tidak ada kata mungkin untuk negara kita bisa maju ketika hal ini sudah mengakar kuat di dalam diri kita masing-masing.

Oleh sebab itu, saya pun seorang idealis muda akan memberikan sedikit dari pemikiran saya untuk mengikis sedikit demi sedikit perilaku ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin pemikiran saya ini terlalu sempit ataupun skeptis, dan juga pemikiran saya ini mungkin terlalu naif, tetapi menurut saya ini sangat memungkinkan untuk dilakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Berikut adalah sedikit dari pemikiran saya yang amat sangat sempit dan kecil untuk mengikis dan memberantas perilaku tersebut dan juga memunculkan Jiwa Garuda.

1. Lakukan edukasi kepada kalangan muda terutama kalangan remaja lewat pendidikan
Merubah manusia lewat pendidikan merupakan hal yang selalu digaungkan sejak dulu. Bahkan, Jiwa Garuda selalu digaungkan hampir di setiap pelajaran PPKN dengan kata “Patriot”. Tetapi, ketika kita hendak melakukan hal ini, selalu saja ada halangannya. Oleh sebab itu, dalam menjalankan pemikiran pertama saya ini, lakukanlah reformasi di dalam kubu gurunya terlebih dahulu. Hilangkan perilaku koruptif, malas, dan juga membangkang dalam jiwa guru-guru. Jikalau ada guru yang sudah lama melakukan hal seperti itu, didik mereka kembali dalam training-training yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Jikalau masih belum dapat berubah, doktrinlah mereka dengan cara yang lebih kerasa daripada sebelumnya. Hampir semua revolusi besar di dunia yang melibatkan ideologi  tertentu melakukan hal ini dalam langkah lanjutan untuk melakukan perubahan ke semua lini. Oleh sebab itu, pendidikan adalah kuncinya.

2. Gerakan kaum mayoritas di dalam negara tersebut
Jikalau negara kita mayoritas terdiri dari golongan pekerja kasar dan juga buruh, maka jalan yang paling baik adalah melakukan training kepada mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Lakukanlah pendekatan secara tidak langsung agar mereka memiliki Jiwa Garuda. Tidak semua buruh itu adalah golongan orang-orang kurang terpelajar. Banyak juga dari mereka yang sebenarnya memiliki pemikiran cemerlang. Begitupun dengan para petani dan pekerja kasar lainnya. Hanya saja, pemikiran mereka terbatas pada bidang yang mereka dalami atau kerjakan. Sehingga, buatlah suatu batasan dalam diri mereka untuk memiliki Jiwa Garuda di dalam bidang yang mereka tekuni dengan bekerja sepenuh hati. Masalahnya sekarang ini, kapitalisme telah memaksa kaum kelas bawah untuk bekerja keras tanpa upah yang sepatutnya. Oleh sebab itu, sebaiknya negara mulai melakukan sedikit nasionalisasi alat produksi. Karena, jikalau alat produksi telah dikuasai, kapitalisme mungkin tetap ada, tetapi setidaknya negara bisa mengendalikannya sedikit. Kapitalisme ini berkembang dikarenakan oleh kurang kuatnya regulasi negara kita dalam melindungi warga negaranya. Uang berbicara dalam hukum negara kita. Dalam hal ini, kekuatan rakyat atau demokrasi adalah alat yang paling ampuh untuk mewujudkannya.

3. Ciptakan suatu hukum yang kuat dan juga memaksa didukung oleh kekuatan aparat
Seribu kalipun kita melakukan reformasi hukum, ketika aparatnya kurang kuat dan pemimpinnya kurang bersifat tegas, tidak akan ada yang namanya supremasi hukum yang sempurna. Hukum yang saat ini ada masih terlalu lembek untuk menekan dan juga mengubah Bangsa ini dari kebiasaan lamanya. Hukum yang dibuat haruslah kuat dan juga memaksa. Karena, masyarakat akan merasa segan dan takut untuk melanggar hukum yang ada. Dengan adanya hukum yang kuat, memunculkan Jiwa Garuda akan menjadi hal yang mudah karena ada keteraturan dalam masyarakat. Tetapi, hal ini juga harus didukung oleh aparat negara yang juga tegas. Tegas dalam hal ini bukanlah otoriter atau mengekang kebebasan rakyatnya. Setiap orang berhak atas kebebasannya. Tetapi, tegas dalam hal ini adalah ikut berkomitmen menaati hukum, memegang erat hukum, dan juga melaksanakan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Juga, tegas disini berarti berani berkata tidak ketika ada ajakan untuk melawan komitmen yang telah dibuat. Oleh sebab itu, pemimpin yang ada pun harus bertangan besi kepada bawahannya dan lembut seperti seorang ibu kepada rakyatnya. Dengan adanya hal ini, aparat akan tertata dalam keteraturan dan rakyat akan memandang pemimpinnya sebagai suatu panutan. Sehingga, rakyat akan berusaha untuk mencontoh pemimpinnya tersebut dan Jiwa Garuda dapat ditanamkan sedikit demi sedikit. Inti dari poin ini adalah kekuatan dan ketegasan hukum yang didukung dengan ketegasan kepemimpinan.

Sehingga, inti dari semua wacana di atas adalah, Indonesia masih kekurangan orang-orang pintar yang berjiwa Garuda. Kita memang benar tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang jujur. Tetapi, hal tersebut juga tidak sepenuhnya benar. Jikalau nantinya Indonesia dipenuhi orang jujur dan pintar tetapi tidak memiliki keinginan membangun Bangsa ini karena tidak punya Jiwa Garuda, apakah yang akan terjadi? Negara ini akan tetap stagnan pada akhirnya. Negara ini pada akhirnya tidak akan berjalan dengan semestinya, bahkan bisa lebih parah lagi. Nantinya, akan tercipta orang-orang pintar serakah yang mulai memonopoli aspek-aspek kehidupan dengan kepintarannya dan mulai mempengaruhi rakyat juga masyarakat dengan “kejujurannya”. Atau yang paling bahaya, Bangsa ini akan mulai dipimpin oleh orang-orang malas dan tidak memiliki tujuan karena mereka jujur dan pandai tetapi tidak pernah bekerja dan tidak memiliki hasrat untuk bekerja. Sehingga, akhir kata, milikilah Jiwa Garuda dalam dirimu dan kau akan dapat melihat Bangsa Indonesia yang lebih baik ke depannya.

Semoga bermanfaat dan dapat memotivasi juga menginspirasi anda semua.




No comments:

Post a Comment